Sunday, December 13, 2009

misteri 2012

Peneliti LAPAN: Fenomena
2012 Siklus 11 Tahunan
(Antara)
Jakarta (ANTARA) - Seorang
peneliti dari Lembaga
Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan) menyatakan
fenomena meningkatnya
aktivitas matahari yang
menurut ramalan suku Maya
terjadi pada 2012 tidak perlu
dikhawatirkan apalagi
dihubungkan dengan hari
kiamat.
Peneliti astronomi dan
astrofisik Lembaga
Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan) yang baru saja
dikukuhkan sebagai profesor
riset Indonesia Dr Thomas
Djamaluddin Msc, Rabu,
menyatakan tidak ada yang
istimewa dari fenomena alam
2012 itu karena hanya siklus 11
tahunan meningkatnya
aktivitas matahari.
"Fenomena 2012 yang
menghebohkan masyarakat
lebih banyak berawal dari
ramalan suku Maya, bukan
berasal dari alasan ilmiah. Kalau
kemudian memang ada
fenomena 2012 alasan
ilmiahnya apa? Tapi yang lebih
banyak diungkapkan justru
bukan sainsnya," kata Thomas
usai dikukuhkan sebagai
profesor riset di kantor Lapan
Jakarta.
Menurut Thomas, fenomena
aktivitas puncak matahari
sebelumnya diperkirakan
terjadi pada 2011, namun titik
minimumnya bergeser
sehingga diperkirakan terjadi
pada 2012. Namun, sekarang
pun ada pergeseran lagi
sehingga kemungkinan terjadi
pada 2013.
Secara alamiah, tegas Thomas,
tidak ada yang istimewa karena
itu merupakan siklus 11
tahunan. "Terakhir terjadi pada
1989 kemudian pada 2000, dan
nanti 2012 atau 2013 akan
terjadi lagi."
Orang kemudian
mengkhawatirkan terjadi badai
matahari, padahal tidak akan
ada badai matahari dahyat
yang menimbulkan dampak
parah.
Badai matahari pada dasarnya
adalah fenomena bumi yang
sering terjadi bukan saja saat
aktivitas matahari mencapai
puncak, tetapi saat aktivitas
mulai naik hingga turun lagi
tetap ada badai matahari.
Artinya memang frekuensi
kejadiannya lebih banyak pada
saat puncak. Tetapi, menurut
Thomas, kekuatan terbesarnya
belum tentu pada saat puncak.
Sering kali yang paling kuat
justru setelah puncak.
"Katakan puncak yang lalu
terjadi di 2000, tetapi aktivitas
matahari yang paling besar,
yang paling kuat justru terjadi
pada 2003," katanya.
Perbincangan fenomena
aktivitas matahari ini juga
berkembang, yang kemudian
dikaitkan lagi dengan seolah-
olah akan ada tumbukan
komet.
"Itu juga secara astronomi
tidak ada buktinya. Tidak ada
informasi atau perkiraan akan
ada komet besar yang
menabrak bumi pada 2012.
Kemudian ada lagi yang
memperkirakan ada planet
Nibiru, padahal planet Nibiru
tidak dikenal dalam
astronomi," jelas Thomas.
Berbagai perbincangan
mengenai fenomena 2012,
seperti seolah-olah
berdasarkan teori astronomi
ada asteroit besar yang akan
menghantam bumi, sama sekali
tidak punya dasar atau tidak
ada alasan astronominya.
"Jadi pada dasarnya
kekhawatiran 2012 lebih
banyak terkait dengan
penafsiran ramalan suku Maya,
dan oleh ketua suku Maya
sendiri sudah menyatakan
bahwa 2012 bukan akhir dan
itu hanyalah pergantian item
kalender yang biasa," kata dia.
Menurut Thomas, dampak dari
badai matahari yang
ditimbulkan dari percikan
partikel matahari dan
menimbulkan medan magnit
itu selama ini hanya berdampak
pada keberadaan satelit di orbit
dan terhadap transformer
fasilitas jaringan listrik.
Badai matahari dapat
menimbulkan induksi ke
fasilitas jaringan listrik
sehingga terjadi kelebihan
beban dan bisa menyebabkan
trafo meledak atau terbakar.
Sampah Antariksa Dalam orasi
ilmiahnya pada pengukuhannya
sebagai profesor riset bersama
Dr Ir Chunaeni Latief Msc,
Thomas juga menyatakan
bahwa wilayah Indonesia yang
dilalui garis ekuator cukup
panjang rentan menjadi tempat
jatuhnya sampah antariksa
yang sekarang kian banyak.
"Sampah antariksa semakin
lama semakin banyak. Yang
terpantau oleh sistem jaringan
pemantau internasional ada
sekitar 13 ribu lebih dan
ancamannya bisa mengganggu
satelit aktif. Dan salah satunya
pernah, sampah antariksa
bekas satelit Rusia menabrak
satelit aktif karena semakin
banyak satelit di antariksa
kemungkinan bertabrakan
semakin besar," katanya.
Indonesia yang berada di garis
ekuator memiliki kemungkinan
lebih besar untuk terkena risiko
jatuhnya sampah antariksa
dibanding kawasan lain. Oleh
karena itu Indonesia harus
selalu waspada karena berada
pada wilayah yang sering
dilalui orbit satelit.
Hal itu harus menjadi perhatian
Lapan dalam memberikan
pelayanan informasi potensi
bahaya benda jatuh dari
antariksa sehingga
kemungkinan terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan dapat
dinetraliskan, demikian Thomas
Djamaluddin.
Bersama Thomas, peneliti
Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc
juga dikukuhkan sebagai
profesor riset dalam bidang
Opto Elektronika dan Aplikasi
Laser. Dalam orasinya ia lebih
mencermati kandungan dan
efek emisi gas rumah kaca
(CO2) dan pemanfaatan
instumensi Satklim LPN-1A
untuk penelitiannya yang
bermanfaat bagi dunia
penerbangan, dan kajian
pemanasan global.

No comments:

Post a Comment